Untuk mengantisipasi tapering Fed, Business Intelligence sedang mempersiapkan semua langkah ini!

oleh -0 views
gubernur bank indonesia perry warjiyo 2 169



gubernur bank indonesia perry warjiyo 2 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mewaspadai kemungkinan penarikan bertahap oleh Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat. Khususnya, risiko melemahnya nilai tukar rupiah.

Demikian disampaikan Gubernur BI Perry Wargio dalam CNBC Economic Update dengan topik “Kebangkitan Ekonomi Indonesia”, Kamis (22/7/2021).

Perry menjelaskan, mengingat situasi ekonomi Amerika Serikat saat ini, tapering dimungkinkan pada kuartal pertama 2022. Sementara itu, rekor kenaikan suku bunga akan menyusul pada akhir tahun.

Pasar juga membaca persyaratan ini. Maka terjadilah “perjalanan menuju kualitas” alias perilaku investor untuk mencari aset yang lebih aman. Dimana ada kecenderungan untuk mendorong uang dari negara berkembang ke luar negeri. Dan dengan demikian mempengaruhi pergerakan nilai tukar.

“Bank investasi menjamin keberlangsungan pasar dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai mekanisme pasar,” katanya.

Garis amunisi siap digunakan. Mulai dari intervensi langsung di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF) hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sementara itu, dalam jangka menengah panjang, pendalaman pasar keuangan terus berlanjut.

Terlihat bahwa meskipun terjadi gejolak di pasar keuangan global, nilai tukar rupiah tetap stabil. Memang ada titik lemahnya, tapi lebih baik dari negara seperti Malaysia, Filipina dan Thailand.

“Jika rupiah melemah, masih akan jelas dan lebih baik dari negara lain,” kata Perry. Per 21 Juli 2021, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah melemah 0,29% dibandingkan Juni 2021 lalu.

BI juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ketidakpastian tapering mempengaruhi pasar SBN, sehingga terjadi peningkatan imbal hasil selama beberapa waktu. Namun dengan format tersebut, imbal hasil SBN dapat dipertahankan pada level yang relatif rendah yaitu 6,2-6,3%.

“Kami akan terus berkoordinasi erat untuk menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar rupiah. Termasuk koordinasi KSSK,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(mig/mig)





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *