Pembukaan suspensi saham Bank Salem, kenapa DCII ditutup selama sebulan?

oleh -0 views



anthoni salim tangkapan layar youtube 169

Jakarta, CNBC Indonesia Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya akan membuka suspensi (suspend sementara) perdagangan saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), bank Grup Salem, efektif Rabu, 21 Juli hari ini.

Namun, saham emiten data center PT DCI Indonesia tbk (DCII) yang sahamnya juga dipegang oleh Salem Group Chairman, Anthony Salem, belum dibuka, meski sudah lebih dari 30 hari (24 hari) Saham tersebut “ dikunci” oleh bursa efek.

Sebelumnya, BEI telah menghentikan sementara atau menangguhkan saham Bank BINA sejak Jumat 9 Juli lalu, atau bursa telah diperdagangkan selama 7 hari.



Setelah dimintai keterangan oleh manajemen BINA, BEI akhirnya membuka suspensi saham ini.

“Dengan mengacu pada pengumuman Bursa No.: Peng-SPT-00106/BEI.WAS/07-2021 tanggal 8 Juli 2021, perihal penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham Bank Ina Perdana, dengan ini mengumumkan bahwa penghentian sementara perdagangan saham Bank Ina Perdana akan dibuka kembali. Di pasar reguler dan pasar uang mulai sesi perdagangan pertama 21 Juli 2021,” demikian pengumuman BEI, Senin (19/7/2021). .

Penangguhan saham BINA sejak 9 Juli seiring dengan kenaikan harga yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Data BEI menunjukkan bahwa saham BINA baru-baru ini diperdagangkan pada Rs 5.775/saham. Dalam sebulan terakhir sahamnya naik 88% dan dalam tiga bulan terakhir naik 273%. Padahal, dalam enam bulan terakhir, saham BINA telah naik 737% dengan kapitalisasi pasar Rp33 triliun.

Dalam suratnya kepada manajemen BINA, BEI juga melontarkan sejumlah pertanyaan beserta komentarnya.

Beberapa pertanyaan tersebut antara lain alasan kenaikan harga saham, transaksi gadai saham atau repurchase agreement (repo), aksi korporasi, dan rencana likuidasi pemegang saham pengendali.

Manajemen “Bana” pun menjawab dalam suratnya terkait sejumlah pertanyaan dari Bursa.

Terkait dengan penggadaian saham, manajemen BINA menegaskan bahwa Perseroan tidak mengetahui adanya kegiatan gadai (pembelian kembali) saham oleh pemegang saham Perseroan.

Selain itu, manajemen perusahaan juga menyatakan tidak menerima uang dari hasil buyback.

“Perseroan tidak mengetahui rencana penjualan saham pemegang saham utama perseroan,” kata Riya dalam keterangan suratnya, saat ditanya bursa apakah ada rencana penarikan dari pemegang saham utama bank tersebut. , tulis Riya Sari. Sidabutar, Sekretaris BINA, dalam surat penjelasannya, dikutip Senin (19/7/2021).

Manajemen BINA juga memastikan tidak akan ada perubahan kepemilikan pemegang saham lama, Anthoni Salim melalui PT Indolife Pensiontama, menjadi pemegang saham baru. Salem dikatakan sebagai pemegang saham utama (last beneficiary entity) di BINA.

Per 30 Juni 2021, Salem Group melalui perusahaan investasinya Indolife Pensiontama yang merupakan pemegang saham pengendali BINA memiliki 22,47% saham perusahaan.

Perseroan meyakini bahwa kenaikan harga saham yang terjadi beberapa waktu lalu disebabkan oleh kinerja perseroan yang membaik dan berkelanjutan dengan ekosistem yang luas.

Selain itu, kenaikan harga saham juga karena adanya rencana aksi korporasi yang akan dilaksanakan dalam rangka peningkatan modal dan pengembangan layanan perbankan.

Perseroan akan melakukan aksi korporasi penawaran umum terbatas (PUT) 3 dengan memberikan hMETD rights/rights issue sebanyak 2 miliar lembar saham dengan nilai nominal Rp100/saham.

Aksi korporasi ini akan dilaksanakan pada semester kedua tahun ini dan telah mendapat persetujuan pemegang saham pada 16 Juni 2021.

Dengan menyetujui penerbitan ini, Anthony Salem sebagai pemegang saham terakhir berkesempatan untuk meningkatkan kepemilikan sahamnya di Ina Bank.

Berikutnya: Mengapa saham DCII “ditutup” selama sebulan?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *