1,5 tahun setelah wabah di Indonesia, 545 dokter di garda terdepan telah meninggal

oleh -0 views


Data IDI menunjukkan 545 dokter di seluruh Indonesia meninggal karena Covid Maret 2020 hingga Juli 2021

Petugas medis memantau kondisi pasien Covid-19 di ruang perawatan intensif RSUD Kota Bogor. Foto oleh Aditya Aji/AFP/ via Getty Images

Semakin hari, risiko yang harus ditanggung oleh tenaga kesehatan di tengah pandemi Covid-19 semakin meningkat. Mereka harus mempertaruhkan nyawa sebagai garda terdepan yang harus merawat pasien dan seringkali harus berganti peran dalam pengobatan, atau yang paling parah, sampai mati.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sejak Maret 2020 hingga 17 Juli 2021, sebanyak 545 dokter mengambil nafas. Selama bulan ini saja, jumlah kematian meningkat dua kali lipat (114) dibandingkan bulan Juni (51). Ini adalah angka kematian tertinggi bagi dokter dalam 1,5 tahun terakhir, terutama setelah varian delta mendominasi penularan kondisi di Indonesia.

CEO Dewan Pengurus Harian IDI Relief Mahisa Paranidiba mengungkapkan sebagian besar dokter yang meninggal berada di pulau Jawa.

Melalui media diskusi bertajuk Update Kondisi Dokter dan Strategi Upaya Mitigasi Risiko Mencegah Runtuhnya Fasilitas Kesehatan Minggu (18/7), Mahisa mengatakan 110 dokter meninggal di Jatim, 83 di DKI Jakarta, 81 di Jawa Tengah, 76 di Jawa Barat, 38 di Sumatera Utara.

Dari segi jenis kelamin, mayoritas adalah laki-laki karena sebagian besar diperuntukkan bagi daerah isolasi Covid-19. Ada juga dokter wanita yang bertugas di daerah tersebut, namun jumlahnya lebih sedikit.

Sedangkan menurut spesialisasinya, dokter umum adalah kelompok yang paling rentan. Disusul oleh dokter kandungan, dokter kandungan, spesialis penyakit dalam, dokter anak, dan dokter bedah. Mahesa mengatakan, dokter spesialis belum banyak tersedia untuk menangani pasien Covid-19, mengingat sebagian besar dari mereka sudah lanjut usia dan memiliki penyakit penyerta.

IDI mengingatkan mereka bahwa mereka tidak hanya menjadi bagian dari statistik, tetapi nyawa manusia hilang karena beban kerja yang terlalu berat. “kelebihan beban Beban kerja yang konstan dan berkepanjangan dapat menyebabkan sindrom DibakarIni adalah keadaan kelelahan yang dapat menurunkan kekebalan rekan kerja, dokter dan tenaga kesehatan lainnya.”

Tak hanya dokter, perawat juga terkena risiko yang sama, Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat 445 kematian per 18 Juli 2021. Alasannya sama, kelelahan terus menerus baik fisik maupun mental yang berujung pada penurunan. dalam sistem kekebalan dalam tubuh yang memfasilitasi penularannya terutama Mengingat lokasi kerjanya, ia berfungsi sebagai zona pertempuran antara manusia dan virus.

Maka dari itu organisasi meminta pemerintah lebih memperhatikan kondisi mereka agar tidak ada lagi dokter yang berjatuhan. Selain itu, seluruh elemen masyarakat juga dituntut untuk berpartisipasi dalam menangani wabah, mulai dari kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan vaksinasi.

IDI telah menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo Juni lalu mengenai situasi di lapangan yang diperkirakan akan berdampak sangat buruk terhadap faskes tersebut. Saat itu, IDI sebagai salah satu organisasi yang menaungi tenaga kesehatan (nakes) mengingatkan bahwa tanpa pengendalian pergerakan masyarakat oleh pemerintah, sistem kesehatan Indonesia bisa terancam kolaps.

Di tengah meningkatnya jumlah kasus harian dan runtuhnya fasilitas kesehatan, pemerintah telah mengambil langkah untuk mengubah tempat tidur di banyak rumah sakit.

Siaran pers yang diterima VICE pekan lalu menjelaskan instruksi Kemenkes agar rumah sakit yang melayani pasien Covid-19 mengalihkan 40 persen kapasitasnya sebagai ruang isolasi di area merah, 30 persen di area oranye, dan 20 persen di area kuning. . . ICU ditambah di area merah 25 persen, di area oranye 15 persen, dan di area kuning 10 persen untuk pasien COVID-19.

Namun, jika penambahan ruangan tidak dibarengi dengan pertimbangan sumber daya tenaga kesehatan, risikonya tidak hanya ditanggung oleh pasien, tetapi juga oleh staf yang memberikan perawatan. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdel Qader dalam konferensi pers bulan lalu. “Perkembangan situasi tidak dapat diikuti dengan ketersediaan tenaga kesehatan dan tenaga medis medical Tempat tidur,” Dia berkata.

Agar tidak timpang, pihaknya mengejar target tambahan sumber daya manusia (SDM). Dan meskipun dia mengakui singkatnya proses perekrutan tenaga kesehatan, dia menyangkal bahwa pemerintah telah melakukan upaya sederhana.

“Kami akan mempersiapkan tenaga kesehatan ini dengan baik dalam waktu singkat melalui kegiatan Pelatihan di tempat kerja. Jadi kami akan mendampingi mereka sebagai pekerja baru, kemudian mereka akan memberikan pembinaan secara berkesinambungan selama bekerja hingga nantinya mereka memenuhi syarat untuk bekerja secara mandiri,” jelasnya.

Dalam beberapa hari terakhir, tersiar kabar tentang perekrutan relawan mahasiswa kedokteran dan mahasiswa kesehatan, salah satunya memanggil Wali Kota Makassar, M. Ramadhan Boumanto.

“Kami masih membutuhkan sekitar 500 orang, baik sebagai asisten lab atau staf pemantau, untuk bergabung dengan tim Pemburu Covid-19, dan menerima laporan hasilnya. menelusuri Yang dikonfirmasi setiap hari Dia berkata.

Soal jumlah SDM dan mudahnya tenaga kesehatan terpapar virus karena kelelahan menjadi pertimbangan Kemenkes untuk memberikan pendampingan. pendorong Atau dosis ketiga vaksin untuk mereka. Penyuntikan dimulai Jumat (16/7) lalu untuk tenaga kesehatan yang bertugas di RSUP Dr. Sipto Mangonkusumu (RSCM), Jakarta Pusat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadiqin mengatakan dalam keterangan p
ers yang diterima Wapres bahwa hadiah tersebut pendorong Bertujuan untuk lebih melindungi mereka. “Saya berharap tenaga kesehatan segera diberikan pendorong Dan yang ketiga bisa melindungi mereka agar bisa bekerja lebih tenang,” kata Boddy.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *